Optimisme di Sudut Kota Jogja

24 Februari 2011. Sore yang cukup cerah untuk bepergian, meski nampak sedikit awan menutupi langit Jogja. Aku memutuskan untuk mengunjungi Komplek Taman Pintar, mencari sebuah buku lawas yang sudah tidak ada lagi di toko buku biasa. Baru pertama kali itu aku berkunjung kesana, setelah sebelumnya menanyakan pada seorang kawan yang sudah lama tinggal di Jogja dimana tempat yang menjual buku-buku bekas di kota ini. Perjalanan kutempuh selama kurang lebih 15 menit menggunakan motor dari Bulaksmumur sembari menikmati suasana Kota Gudeg di sore hari.

Sesampainya disana aku amat terkesan. Melihat begitu banyaknya kios yang menyediakan buku-buku bekas maupun baru, dari bacaan ringan seperti komik hingga referensi-referensi seperti buku-buku kedokteran. Pedagang buku disitu telah disediakan tempat berdagang berupa kios-kios dalam sebuah gedung, menjadikan tempat tersebut sebuah komplek pertokoan buku. Di kota asalku, pedagang buku seperti itu tak mendapat tempat berdagang yang layak dan bagus seperti disini. Dan juga kios-kiosnya sedikit, sehingga pembeli tak bisa leluasa mencari buku yang diinginkan. Tak salah bila Jogjakarta disebut juga sebagai “kota pelajar”, pikirku.

Ditemani seorang rekan, aku mengunjungi kios-kios buku tersebut satu persatu, menanyakan buku yang kucari. Setelah hampir semua kios di lantai I aku datangi, ternyata tak satupun yang menyediakan buku yang kucari. Agak lelah juga, aku memutuskan untuk duduk sejenak di taman depan pertokoan. Suasananya begitu hangat dan menyenangkan. Beberapa pedagang asongan juga sedang beristirahat sambil bercengkerama dengan sesama pedagang, saling mengomentari dan bercanda, begitu akrab.

Dan ada suatu hal yang membuatku tertegun. Seorang pedagang rokok sedang meletakkan barang dagangannya dan menghitung hasil penjualan hari itu, begitu nampak kelelahan. Tiba-tiba seorang penjual dawet mendatanginya dan menawarkan, “kerso ngunjuk mas?” atau dalam Bahasa Indonesia berarti “mau minum mas?” Pedagang rokok tersebut mengiyakan, dan si penjual dawet segera membuatkannya segelas dawet nan segar untuk melepas dahaga. Begitu habis diteguknya, si pedagang rokok itu menanyakan berapa harga dawetnya. Dan dengan tulus, si penjual dawet tersebut menjawab, “ah, mboten. Mboten usah mas.” Si penjual dawet itu menolak untuk dibayar. Padahal, dari percakapan yang sempat kudengar, si penjual dawet tersebut memiliki istri dan anak yang perlu dihidupi. Namun dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, ia masih mau berbagi dengan sesamanya. Hal yang jarang kutemui, rakyat kecil seperti mereka yang masih mau peduli terhadap orang lain, tidak hanya memikirkan perutnya sendiri dan hanya mengeluh betapa pemerintah tak memperhatikan mereka.

Di salah satu sudut Kota Jogja itu aku melihat kehidupan yang begitu optimis diantara realita-realita yang menyesakkan saat ini. Disaat pemerintah sibuk dengan kepentingannya, disaat mahasiswa yang seharusnya membela mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, disaat harga-harga melambung tinggi dan anak-anak mereka membutuhkan pendidikan, mereka masih bisa tertawa dan berbagi, seolah tak peduli lagi apakah pemerintah dan para intelektual bangsa memperhatikan mereka atau tidak. Dengan ketulusan dari hati mereka tersenyum, tertawa, berbagi. Sesuatu yang sangat sulit ditemukan di zaman sekarang ini. [bell]


0 comments:

Posting Komentar

 

My Tweeeeet