Mari Bersyukur :')

14 Mei 2012. Tamparan keras lagi. Keras sekali. Tak menyakitkan, namun mengharukan, dan benar-benar meninggalkan "bekas". Hari ini kembali aku diperingatkan oleh Nya tentang orang-orang malang yang telah lama aku lupakan. Bukan bermaksud melupakan sebenarnya, namun pikiran tentang mereka akhir-akhir ini tertutupi oleh rutinitas dan tuntutan yang cukup menguras otak.
Senin ini, seperti Senin-Senin sebelumnya, aku mengikuti praktikum Sistem Pengaturan dilanjutkan dengan praktikum Elektronika Daya. Setelah berpusing-pusing dan akhirnya praktikum selesai, segera saja aku menuju Masjid Darul Hikmah, masjid kampus Polines. Setelah ini aku berencana pergi ke RSU Ungaran untuk menjenguk ayah Rahman. Sebenarnya lelah dan pusing, namun aku kemarin sudah berjanji untuk datang.
Tiba di masjid, kulihat seorang nenek duduk di beranda masjid, ia tersenyum padaku, dan aku membalasnya. Aku tak mengenal ibu itu dan tak pernah melihatnya sebelum ini.
Ketika aku berwudhu, ibu itu menuju kamar mandi, dan menyapaku. Aku hanya tersenyum.
Setelah selesai solat, aku keluar dan mengenakan sepatuku, bersiap-siap pergi. Ibu itu kembali menghampiri. Ternyata ia ingin meminta bantuan. Ia adalah seorang tukang pijat keliling yang berasal dari Demak. Belum mendapat uang sedikitpun, ibu itu pun tak bisa pulang ke asalnya. Aku membuka dompetku dan ternyata hanya ada limebelas ribu. Antara rasa  ingin memberi dan rasa lapar yang sedari tadi melilitku, serta kondisi motorku yang bensinnya tinggal satu strip.  Akhirnya kuberikan sepuluh ribuku padanya. Ia terlihat senang dan mengucapkan terimakasih, serta tak henti-hentinya mendoakanku.
Ibu itu juga menanyakan apakah aku akan pulang atau tidak, ke arah mana, ia ingin menumpang hingga patung kuda (Ngesrep). Aku mengiyakan.
Ibu tua itu mengingatkan aku betapa beruntungnya aku, tak pernah kekurangan uang sehingga tak perlu meminta-minta ke orang yang tak kukenal. Aku juga diberi kendaraan bermotor, yang dengannya aku bisa pergi kemana saja dan melakukan apa saja dengan mudah. 
Segera setelah menurunkan ibu itu di tempat yang ia minta, aku melesat menuju Ungaran.
Ah, RSU Ungaran. Tempat dimana aku dulu pernah sekarat dan hampir mati, namun suster masih saja bergerak lambat.
Dan sekarang ayah Rahman, sahabat baikku, terbaring disini. Ayahnya menderita penyakit jantung. Aku miris ketika melihat kondisi bangsal. Dari luar, tampak RSU Ungaran telah melakukan pembenahan, membaguskan gedung, menambah bangunan. Ternyata didalamnya masih sama seperti dulu. Kusam, banyak cat mengelupas, sangat tak layak bagi sebuah rumah sakit. Apalagi ketika memasuki ruangan kelas untuk menengah kebawah. Sungguh, sangat memprihatinkan.
Ayah rahman, kutaksir usianya mendekati 50 tahun, terbaring melelapkan mata di ranjang paling pojok, dekat jendela. Ia tidur dengan tenang, meski nafasnya lebih cepat dari nafas orang tidur biasanya. Dalam hati aku mengutuki pemerintah Kabupaten Semarang dan kepala rumah sakit. Kondisi ruangan begitu pengap, dihuni oleh lima pasien, beserta keluarga pasien yang menemani si sakit. Ditambah lagi kenyataan bahwa orang-orang ini, pasien dari kalangan menengah kebawah, harus membayar biaya rumah sakit yang tak sedikit. Rumah sakit ini tak membantu, menurutku. Hanya memeras uang dari masyarakat yang berkekurangan. Pelayanannya begitu buruk dan lambat. Aku melihatnya sendiri. Ayah Rahman yang sedang tertidur, tak sengaja menyenggol selang obat, lepaslah selang itu dan mengucur darah dari tangannya. Cepat-cepat Rahman memanggil perawat. Perawat itu menggerutu. Tampak sekali responnya yang tak cekatan. Ia membersihkan darah di meja sambil nggerundel. Aku heran bagaimana ia bisa lulus menjadi perawat. Ia sama sekali tak tampak seperti perawat, kecuali seragamnya.
Apalagi keluarga Rahman. Aku baru tahu bahwa ia memiliki 3 adik yang masih bersekolah. Adik pertama, Rico, siswa kelas 2 di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas), Roy yang saat ini akan masuk SMP, dan Reva yang saat ini akan masuk SD. Ibunya adalah ibu rumah tangga, dan Rahman telah berhenti bekerja sejak sebulan yang lalu. Ia berencana akan masuk kuliah tahun ini, di UNY. Bagaimana tak miris lagi aku mengetahui keadaan ini.
Lagi-lagi ini tamparan buatku. Aku dengan mudahnya bisa berkuliah, masa depanku InsyaAllah terjamin. Orangtuaku sangat mampu membiayaiku dan adikku. Duh Gusti, mengapa sedari dulu Rahman selalu diberi cobaan yang berat.

--Kudapati 3 hari kemudian, setelah diberi tahu bahwa ayahnya koma, aku mendapat kabar dari Hanum (kawan SMA juga dan sesama anak Pramuka) bahwa ayahnya telah tiada.



0 comments:

Posting Komentar

 

My Tweeeeet